Category Archives: Psikologi

Tidur Bantu Tingkatkan Ingatan dalam Belajar

800px-Sleeping_students

Tidur di antara dua sesi belajar atau lebih dapat membantu seseorang mengingat apa yang telah dipelajarinya dengan lebih mudah – bahkan hingga 6 bulan setelahnya, menurut temuan terbaru yang dimuat di Psychological Science, jurnal yang diterbitkan oleh Asosiasi Ilmu Psikologi di Amerika Serikat.

“Hasil temuan kami mengindikasikan bahwa menyelipkan tidur di tengah-tengah sesi belajar dapat memberi keuntungan 2 kali lipat – mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari kembali [materi yang sudah dipelajari sebelumnya] dan memastikan penyimpanan materi dalam jangka waktu yang lebih panjang,” jelas Stephanie Mazza, ilmuwan psikologi dari Universitas Lyon.

“Hasil penelitian sebelumnya mengindikasikan bahwa tidur setelah belajar jelas merupakan strategi yang baik, tapi kini kami menunjukkan bahwa tidur di antara 2 sesi belajar lebih-lebih lagi memaksimalkan hasil dari strategi tersebut.”

 

Baca selengkapnya ….

Sumber: PsyPost

Cara Sederhana Agar Lebih Sehat, Sukses & Bahagia: Tidur Cukup

Psikolog klinis menganjurkan tidur yang cukup untuk menghindari atau meringankan berbagai permasalahan psikologis. (Foto: Wikimedia Commons)
Psikolog klinis menganjurkan tidur yang cukup untuk menghindari atau meringankan berbagai permasalahan psikologis. (Foto: Wikimedia Commons)

Psikolog klinis dari Amerika Serikat, Leslie Becker-Phelps, Ph.D, seringkali memberikan saran ini kepada para pasiennya – meskipun mereka memiliki permasalahan yang berbeda-beda: tidur yang cukup.

Kurang tidur, ujarnya, dapat menghantarkan pada berbagai kondisi seperti: lelah, kurang berenergi, pikiran tidak jernih, ingatan yang buruk, optimisme rendah, kurang sosial, rasa cemas, depresi, mudah stress, mudah marah, mudah frustasi, impulsif, permasalahan berat badan akibat makan berlebih, sensitivitas terhadap rasa sakit meningkat, kekebalan tubuh melemah (mudah sakit dan pemulihan yang lambat.

“Kelelahan kadang merupakan penyebab utama masalah-masalah ini. Atau, memperparah kondisi yang sudah ada, yang tidak cukup diatasi hanya dengan tidur saja,” kata Becker-Phelps, yang membuka praktek pribadi dan juga bekerja di Rumah Sakit Robert Wood Johnson University, Somerset di Somerville, New Jersey.

“Karena itu, pertimbangkanlah pentingnya tidur yang cukup. Kalau memang kurang tidur berkontribusi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut, tidak ada yang bisa menggantikan tidur yang cukup untuk meringankannya.”

Baca selengkapnya …

Sumber: Psychology Today

Mengapa Sebagian Orang Mengalami ‘Deja Vu’ Lebih Sering Dibanding Orang Lain?

Dari sudut pandang sains, fenomena ‘deja vu’ – berasal dari bahasa Perancis yang artinya “pernah terlihat” — agak sulit dimengerti. Akan tetapi ada beberapa teori mengenai bagaimana ‘deja vu’ bisa terjadi:

1. Deja vu merupakan akibat dari ketidakcocokan sementara antara bagaimana kita mengindera dan memandang dunia di sekitar kita pada waktu yang bersamaan. Sebagai contoh, mungkin kita mencium suatu aroma yang familiar, lalu pikiran kita langsung terbawa pada saat pertama kali kita merasa mencium aroma tersebut.

(Tetapi teori ini agak samar, dan tidak bisa menjelaskan mengapa kebanyakan pengalaman deja vu bukanlah gambaran dari peristiwa yang benar-benar pernah terjadi di masa lalu).

2. Deja vu bisa jadi merupakan malfungsi sementara antara sirkuit ingatan jangka panjang dan jangka pendek di dalam otak kita. Informasi yang diterima oleh otak kita mengenai keadaan di sekeliling kita bisa saja mengambil jalur pintas langsung ke bagian ingatan jangka panjang, memotong mekanisme penyimpanan memori pada umumnya. Akibatnya, kita mengalami deja vu; rasanya seolah-olaj kita sudah pernah mengalami kejadian ini di masa lalu.

3. Area di dalam otak yang disebut rhinal cortex, yang terlibat dalam mendeteksi familiar atau tidaknya sesuatu, entah bagaimana caranya mungkin telah teraktifasi, meski tanpa pengaktifan sirkuit ingatan (hippocampal) terlebih dahulu. Ini bisa menjelaskan mengapa orang-orang yang mengalami deja vu tidak bisa secara spesifik menyebutkan kapan dan di mana mereka merasa pernah mengalami peristiwa tersebut.

 

Sumber: psychologytoday.com